PANCASILA, NASIBMU KINI

hidayatullah.co.id, Medan-Lumbung atau rangkiang dalam bahasa Minang adalah Konsep kearifan lokal sebagai tempat menaruh harapan dan persediaan, karena disitulah stok makanan (Padi) disimpan agar berguna dimasa paceklik.
Masih kuat Dalam ingatan kita merenungi pepatah lama ” Tikus mati dilumbung padi” . Pepatah itu menggambarkan Badan Pembinaan Idielogi Pancasila (BPIP) saat ini. Lembaga relatif baru ini diumpamakan sebagai lumbung Idelogi untuk menggali dan menjaga nilai nilai Pancasila , ternyata situasinya  gersang nilai dalam memahami falsafah Negara ini.
Tiba Tiba masyarakat dikejutkan oleh pernyataan Kepala Badan Pembinaan Idielogi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menjadi pemantik kontroversi dengan mengatakan Agama adalah musuh Pancasila.
“Rasanya nalar kita sebagai warga bangsa berhenti bekerja dan nurani kita terseok seok menerima kenyataan ini.
Mengapa orang yang diberi kewenangan tidak Paham dengan isi dan ajaran idielogi negara ujar  Anggota DPR RI Komisi XI Dari Partai Keadilan Sejahtera, Hidayatullah.
Hidayatullah menyayangkan pernyataan kontoversi Yudian yang menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila. Rasanya kita ingin bertanya bagaimana komitmen lembaga ini dalam memperkuat pemberantasan korupsi, Di tengah tengah kangkangan pengaruh politik yang terang benderang.
bagaimana skema penuntasan skandal Keuangan Jiwasraya yang sangat mengusik rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana oligarki kekuasaan menjadi hilir dalam seluruh simpul dan proses demokrasi di negeri ini yang dinilai tanpa permusayawaratan penuh hikmah.

Hidayatullah berharap ,marilah kita membuka lembaran sejarah perjuangan almarhum  M. Natsir dengan mosi Integralnya yang fenomenal mempersatukan NKRI. hidayatullah.co.id/Abdul Azis

“BAGAIMANA BPIP MENJADI LEMBAGA PENJAGA IDEOLOGI NEGARA KALAU PIMPINANNYA TUNA SEJARAH?”

JAKARTA – hidayatulllah.co.id : Anggota DPR RI H Hidayatullah, SE mempertanyakan bagaimana mungkin Badan Pembina Ideologi Negara (BPIP) yang dibentuk Presiden Joko Widodo bisa menjalankan fungsinya sebagai lembaga penjaga ideologi Pancasila kalau pemimpinnya ternyata tuna sejarah? Pertanyaan itu dilontarkan H. Hidayatullah SE, ketika diminta tanggapannya tentang pernyataan kontroversial Kepala BPIP Prof. Yudhian Wahyudi yang mengatakan agama adalah musuh terbesar Pancasila.

“BPIP kan lembaga yang dibentuk Presiden untuk menjaga nilai-nilai Pancasila tapi ternyata pimpinan yang diangkat tuna sejarah dan gersang dalam memahami falsafat ideologi negara ini,” kata Hdayatullah melalui telepon seluler kepada reporter Rentaknews Abdul Aziz, kemaren.

Menurut Hidayatullah, BPIP itu ibarat lumbung  atau  rangkiang dalam filosofi Orang Minangkabau. Dalam konsep kearifan lokal di Minangkabau, lumbuang atau rangkiang itu adalah simbol untuk menaruh harapan. Di lubung itulah persediaan makanan disimpan sehingga ketika paceklik dapat digunakan. “Nah, sekarang pernyataan Kepala BPIP itu bagain pepatah yang mengatakan tikus mati di lumbung padi. Artinya jangan sampai ideologi Pancasila ini jadi hilang ketika ada BPIP yang dipimpin Yudhian Wahyudi ini,” kata Hidyatullah lagi.

Seharusnya menurut Hidayatullah, BPIP ini menjadi lumbung ideologi untuk menggali dan menjaga nilai-nilai Pancasila itu, bukan untuk dibentur-benturkan dengan agama. Ini kan namanya tuna sejarah. Rasanya  nalar  kita sebagai  warga  negara  berhenti  bekerja  dan hati nurani  kita terseok  seok  menerima  kenyataan  ini. “Mengapa  orang  yang  diberi  kewenangan memimpin BPIP ternyata tidak paham  dengan  isi dan  ajaran idielogi  negara,” tanya Hidatullah lagi.

Lebih lanjut Hidayatullah mengatakan, jangan  berharap  BPIP  akan  mampu  menerapkan nilai-nilai  Pancasila, jika ternyata  sosok pimpinanannya adalah orang yang membalikkan  nilai-nilai  kebenaran yang ada dalam Pancasila itu. “Nilai-nilai kebenaran tersebut harus dominan diterapkan tanpa ada code  of conduct  dan code of being,” kata Hidayatullah.

Menurut Hidayatullah, rasanya  kita ingin bertanya bagaimana  komitmen  lembaga  ini dalam memperkuat  upaya pemberantasan  korupsi di tengah-tengah kangkangan  pengaruh  politik  yang terang  benderang. “Bagaimana skema penuntasan skandal keuangan  Jiwasraya  yang sangat mengusik rasa keadilan sosial bagi seluruh  rakyat  Indonesia itu? Bagaimana  oligarki  kekuasaan  menjadi  hilir  dalam  seluruh  simpul  dan proses  demokrasi  di negeri  ini tanya Hidayatullah lagi.

Untuk itu Hidayatullah mengajak rakyat Indonesia untuk membuka  lembaran sejarah  perjuangan  almarhum  Muhammad  Natsir  dengan  Mosi  Integralnya  yang fenomenal  dalam mempersatukan  NKRI, bukan meresahkan seperti dilakukan Kepala BPIP itu. “Apakah  orang  ini  dungu  atau memang pesanan untuk  mengalihkan  isu,” kata Hidayatullah mengakhiri  wawancara. (*)

Reporter:

Abdul Aziz

Editor:

Harun AR