Guru Honor Nonkategori ‘Curhat’ Ke Hidayatullah

Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Hidayatullah mendengarkan ‘aspirasi perwakilan Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Nonkategori 35+ Kabuoaten Serdang Bedagai, Kamis (12/3/20).

SERDANG BEDAGAI, hidayatullah.co.id – Sejumlah perwakilan dari Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Nonkategori 35+ (GTKHNK 35+) Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), ‘curhat’ dengan anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Hidayatullah SE, Kamis (12/3/2020). Mereka mengeluhkan honor yang masih di bawah UMR dan berharap dapat diangkat oleh pemerintah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Nonkategori, merupakan tenaga honor yang tersebar di seluruh Indonesia berkisar 254 ribu orang. Sedangkan di Kabupaten Sergei sendiri, jumlahnya ada ratusan guru baik di tingkat SD, SMP maupun SMA.

Mereka menceritakan kesenjangan pendapatan yang sangat mencolok antara guru berstatus ASN dengan guru honorer. “Coba bapak bayangkan, kami rata-rata sudah mengajar sebelas tahun lebih. Namun honor yang kami terima di bawah UMR. Artinya, yang kami terima berkisar Rp600 ribu hingga Rp1 juta, itupun kami terima per tiga bulan sekali,” ungkap seorang perwakilan guru honor tersebut.

Dia menyebutkan, ada dua alasan mendasar yang membuat mereka tetap bertahan. “Pertama, angkat kami guru dan tenaga kependidikan honorer Nonkategori 35+ menjadi ASN tanpa testing melalui Keppres. Kedua, naikkan honor kami sesuai UMR Kabupaten sehingga dapat hidup layak,” harapnya.
Menanggapi curhatan guru-guru honor ini, Hidayatullah mengatakan, hampir sama persoalan di beberapa daerah yang pernah ia dikunjungi. “Tidak dapat dibayangkan bagaimana logika dan akal sehat dapat menalarnya, dengan honor sekian tersebut bapak dan ibu masih bisa bertahan,” ujar Hidayatullah yang didampingi stafnya Abdul Aziz.

Politisi PKS inipun menanyakan kepada para guru honor, bagaimana mereka dapat bertahan hidup dengan honor yang sekecil itu? Sambil tersenyum, mereka mengaku mencari tambahan penghasilan dengan menyambi jualan, bertani dan pekerjaan apa saja yang dapat mereka kerjakan, asalkan menghasilkan uang.

Mendengar itu, Hidayatullah pun berjanji, sekembali dari reses ini ia akan bertemu dengan Komisi X untuk membicarakan hal ini lebih detail. “Persoalan ini akan kami bicarakan, kalau perlu memanggil menteri yang bersangkutan. Sedangkan di tingkat provinsi dan kabupaten, saya akan komunikasikan dengan teman-teman anggota dewan dari dapil Sergei,” tandasnya. (adz)

Visi Kita Di Dunia Adalah Akhirat

MEDAN, hidayatulah.co.id – Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Hidayatullah menggelar reses yang dihadiri simpatisan dan kader PKS dari Cabang Dakwah (Cada) 1, meliputi DPC PKS Medan Petisah, Medan Barat, Medan Baru dan Medan Helvetia, di Al Maidaa Chicken Jalan Kapten Muslim, Selasa (10/3/2020) malam. Reses kali ini dikemas berbeda, karena lebih bernuansa keislaman. Karena, peserta yang hadir juga mendapat siraman rohani yang menyejukkan.

Dalam kesempatan itu, Hidayatullah menyampaikan, tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. “Allah yang telah mengatur dan menuntun langkah kita, karena Allah punya rencana besar dalam hidup kita karena itu milikilah semangat,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab, seorang konstituen bertanya, mengapa reses kali ini berbeda dengan yang pernah diikutinya? Menurutnya, di sini nuansa politiknya malah hampir tidak terasa, karena semua yang hadir mendapat siraman rohani yang menyejukkan. “Tidak ada gegap gempita dan wahnya seorang anggota DPR RI yang levelnya setingkat menteri. Bersahaja, itu kesan yang saya rasakan saat ini,” kata si penanya.

Menanggapi itu, Hidayatullah menjawab dengan argumen yang menelisik kalbu. “Sekali lagi, visi besar kita mendapatkan akhirat dengan ridhonya Allah. Di antara nikmat Allah kepada kita adalah, Dia membantu kita mengenali diri, yang dengan itu kita punya kemampuan meletakkanya di tempat yang sesuai, atau memperkakukannya dengan cara baik. Maka ketidaktahuan seseorang pada dirinya dan kemampuan yang dimilikinya, menjadikannya salah dalam menilai diri sendiri, ini petaka dan bencana,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Hidayatullah juga menyinggung soal RUU Omnibus Law yang penuh kontraversi. Politisi senior PKS Sumut ini meminta pemerintah jangan abai dengan aspirasi masyarakat.

Menurutnya, kurang berkualitas RUU Omnibus Law ini bisa jadi karena kurang transparan dan cenderung ditutup-tutupi sehingga sulit untuk di akses publik. Karenanya dia memaklumi respon kekecewaan masyarakat seperti sulitnya lapangan pekerjaan saat ini.

Sementara, Zulkarnain yang selalu mendampingi Hidayatullah ketika ditanya seorang peserta tentang sosok Hidayatullah, menyebutkan kalau anggota DPR RI yang satu ini sangat bersahaja. Meski dua periode menjadi anggota DPRD Deliserdang, dua periode menjadi anggota DPRD Sumatera Utara dan sekarang menjadi anggota DPR RI, tidak ada yang berubah dalam dirinya. “Misal kalau saudara tanya, berapa penghasilan DPR? Fasilitas apa yang didapatnya? Atau pertanyaan lainnya, insya Allah akan dijawabnya dan tidak ada yang ditutup tutupinya. Jadi hanya satu kata yang dapat disampaikan untuk kepribadian Ustad Hidayatullah, bersahaja,” tandasnya. (adz)