Anggota DPR RI Ini Punya Solusi Atasi Krisis Energi dan Disrupsi Teknologi

Jakarta (29/10) — Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menyatakan, perubahan iklim hingga menimbulkan krisis energi tentu bisa berdampak bagi kondisi makro ekonomi.

Hal ini dapat ditinjau tidak hanya dari sisi permintaan, tetapi juga penawaran bisa menjadi pemicu dampak secara keseluruhan.

“Kondisi naiknya suhu, perubahan cuaca ekstrim, tekanan udara bisa berkaitan dengan penurunan produktivitas ekonomi. Secara langsung akan mempengaruhi pertanian, perkebunan, kehutanan, industri, pariwisata, dan sebagainya,” ujar Anggota Komisi XI Hidayatullah

Kendati demikian, menurutnya dampak krisis energi tentu saja sangat tergantung dengan kemampuan masing-masing negara untuk beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim.

Perbedaan iklim di setiap negara seharusnya akan menentukan besarnya dampak terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Dia menilai negara seharusnya sudah siap dengan melakukan antisipasi karena kerentanan terhadap perubahan iklim tersebut.

“Untuk itu, tanggapan kebijakan lebih kuat terhadap ancaman perubahan iklim, termasuk upaya mitigasi dan adaptasi harus disiapkan secara matang.
Dengan demikian, tidak ada efek semakin bertambah parah jika ditambah dengan masalah simultan yakni kesehatan dan menurunnya kualitas gizi akibat perubahan iklim,” kata Hidayatullah.

Selanjutnya, jika bicara teknologi digital, maka sudah bukan lagi perkara masa depan, tapi sudah menjadi realita bagi dunia secara keseluruhan.

Namun, terus meningkatnya perkembangan teknologi hingga menimbulkan disrupsi sebenarnya demi mengimbangi kebutuhan manusia.
Sebab di setiap aspek kehidupan akan selalu ada teknologi digital untuk membantu kita sehari-hari, menjadikan aktivitas lebih efisien.

Bahkan dalam kondisi sekarang ini, sektor komunikasi menjadi bukti nyata bahwa pandemi mendorong masyarakat Indonesia untuk segera melakukan transisi dari manual ke era digital.

“Justru kita harus bisa meningkatkan perekonomian dengan memanfaatkan teknologi digital. Pandemi ini mau tidak mau merupakan satu faktor, dimana memicu pergeseran aktivitas dari offline menuju online karena keterbatasan ruang gerak selama pandemi,” pungkas Hidayatullah.

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.