Surabaya (09/09) — Anggota DPR dari Fraksi PKS asal Surabaya, Sigit Sosiantomo, menyayangkan munculnya logo sebuah parpol berlambang kepala banteng sebagai Sila ke-empat Pancasila dalam Siaran Pendidikan, beberapa hari terakhir ini.

Sigit menjelaskan, sejak awal semester siswa-siswi Sekolah Dasar di Surabaya, sebagian besar mendapat arahan dari sekolah masing-masing untuk menyaksikan siaran langsung mengenai pendidikan di saluran SBO TV bertajuk GURU-ku.

“Siaran ini berlangsung setiap hari Senin-Sabtu di pagi hingga siang hari dan berlangsung secara bergantian sesuai jenjang kelas masing-masing. Sayangnya, siaran yang seharusnya ditujukan bagi para siswa-siswi untuk mengenyam pendidikan ini justru melakukan kesalahan fatal pada siaran hari Selasa (8/9) lalu,” ungkap Anggota Komisi V DPR RI ini.

Pada siaran program TV di hari Selasa tersebut, lanjutnya, tepat pada saat pengajaran bagi siswa-siswi kelas 1 SD, terdapat satu skenario dimana logo khas dari Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP), yaitu hewan banteng ditayangkan.

“Sayangnya yang menjadi semakin mengkhawatirkan adalah penjelasan dari guru yang mengajar pada saat itu bahwa logo tersebut digambarkan sebagai lambang sila keempat Pancasila,” urai Sigit.

“Kejadian ini sangat disayangkan ya, terlebih logo tersebut muncul dalam tayangan yang ditujukan sebagai upaya menyalurkan pendidikan bagi anak-anak. Tetapi justru secara tidak bertanggungjawab terkesan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menjalankan agendanya,” imbuh Sigit yang menjadi Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Timur I.

Secara lebih dalam, kata Sigit, program TV GURUku adalah sebuah program pendidikan yang merupakan program alternatif kegiatan belajar mengajar di masa pandemi COVID-19 yang merupakan hasil kerjasama antara SBO TV dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Dengan bentuk Kerjasama yang dilaksanakan dengan instansi pemerintah tersebut, tambahnya, sudah sepantasnya SBO TV sebagai pemilik hak siar melakukan pengecekan dan pengawasan lebih dalam mengenai bahan-bahan siaran yang akan ditayangkan.

“Timeline politik saat ini yang telah memasuki masa-masa proses Pilkada Serentak 2020 turut menimbulkan kecurigaan. Apakah sebenarnya upaya tersebut sengaja dilakukan sebagai bentuk kampanye yang berusaha disamarkan ? Kalau memang seperti itu keinginannya, sungguh hal tersebut sangat mengkhawatirkan dan tidak memberikan contoh yang baik bagi masyarakat.” tambah Sigit yang juga asli Surabaya.

Seperti yang diketahui bahwa baru hari Minggu (06/09) lalu, KPU menutup pendaftaran bagi para bakal calon kepala daerah secara nasional.

Surabaya termasuk dalam salah satu daerah yang juga akan menyelenggarakan pemilihan Walikota pada Pilkada serentak dalam waktu dekat ini.

Sementara PDIP diketahui juga mengusung kadernya untuk maju menjadi bakal calon walikota-wakil walikota Surabaya, yaitu Eri Cahyadi – Armuji yang turut didukung PSI. Secara total, bakal calon pasangan ini memiliki dukungan sebanyak 19 kursi di DPRD.

Sementara pesaing mereka, yaitu Machfud Arifin – Mujiaman Sukirno merupakan pasangan yang mendapat dukungan dari lebih banyak partai, antara lain PKB, PKS, PAN, Gerindra, PPP, Demokrat, Nasdem, dan Golkar. Secara total, pasangan ini mendapat dukungan dari 31 anggota partai terkait yang saat ini menjadi anggota DPRD kota.

Kasus yang terjadi kemarin, terang Sigit, seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi setiap pihak untuk memperketat pengawasan dan melakukan quality check lebih baik agar kedepannya tidak terjadi lagi kasus serupa. Terlebih saat ini merupakan masa-masa yang cukup panas di dunia politik karena setiap partai akan berjuang memenangkan jagoannya.

“Kami menunggu klarifikasi dari SBO TV dan PDIP terkait kasus ini. Apabila memang hal ini disengaja, seharusnya PDIP mendapat sanksi dari Bawaslu, sehingga kasus yang terjadi kemarin tidak menjadi motivasi bagi partai lain untuk melakukan pelanggaran yang serupa,” seru Sigit Sosiantomo.

By redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *